|
![]() kudengarkan bisikanmu yang lirih kian hilang tentang jemari mengguratkan niat tak berhenti pada kenisbian bahkan kala janji bergelantungan pada tingginya tiang kita hanya terduduk setelah lelah menghela nafas dipersimpangan kutelisik gurat wajahmu semakin kentara nian kulitmu gosong terbakar matahari yang meleburkan berang dan mulutmu masih saja mengepulkan asap tembakau campuran yang kau kumpulkan dari asbak sisa hari kemarin tak terbuang kugenapi langkahku dibangku kayu tua disudut istana megah segelas es teh manis dan sepiring arem-arem menjadi teman sementara dirimu menatap kosong jalanan yang mulai meriah entah kapan puing bebatuan itu bisa berdiri kembali nyaman kemarau sebentar lagi surut karena di utara awan sudah bergulung sementara gubuk saja belum berdiri, dan atap entah kapan dibeli aku tahu kau marah jatahmu dikebiri proyek mercusuar kendaraan perang aku pun merasakan pedihmu saat tahu mereka hanya membuang ludah, dan tak kembali salamati, akuluka.net gambar, pribadi. |
| Leave a Comment: |