|
mereka merunduk rata dengan tanah menikmati belaian durjana tak sekejap terbuai lemah hingga daging bernanah halus tutur kata dan lembut tingkah mengantarkan mereka duduk dipucuk kursi darah gemerlap membutakan segara yang bau busuk basah tak berwujud mereka terus merangsek menjarah nusantara dikuasai durjana tak berwajah mereka membuncah dan meletup-letup diujung timur sementara di alun-alun mereka berkoar tentang perdamaian dibalik semua itu tangan mereka mencerabut nyawa dibilahan tenggara dan meledak-ledak di ujung surga yang tak terbeli sebelah selatan buih-buih janji berdesakan dan terlontar seperti sendawa lalu sirna sementara rerumputan berharap buih itu menetas seperti embun walau hanya sekadar untuk membasuh bibir mereka yang kering ketika pagar mereka hancur dilesakkan oleh keadaan saat kerontang menyambangi hati dan menyergap fikir dan ketiak tak lagi basah oleh keringat melainkan oleh serapah hijau hanyalah mimpi belaka saat durjana mengandalkan senyum kafir dan pijakan semakin keras menekan wajah memelas mereka tengadah salamati, akuluka.net |
| Leave a Comment: |